Menu
Lugas Tegas Tepat

Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama

  • Bagikan
Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama
Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama

DomainJava – Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama denger-denger isu ini lagi ramai dicari di mana-mana gaes. Halo pembaca setia DomainJava.com! Apa kabar hari ini? Sambil rebahan atau ngopi hangat juga boleh banget gess.

Nggak sedikit orang yang nyari rujukan valid terkait hal ini. Nah, untungnya di sini kita bakal bahas mendalam terkait Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama. Poin ini pastinya berguna banget buat kehidupan sehari-hari.

Nggak usah ditunda lagi, langsung aja intip ulasan lengkap yang ada di bawah. Yuk intip di bawah!

Editorial photo of a sleek foldable smartphone resting on a wooden desk, showcasing its dual screen design with soft studio lighting.

Poin Utama Berita Ini:

  • Samsung meluncurkan Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan banderol harga mencapai USD 2,100 atau setara dengan kisaran Rp37.663.500 berdasarkan kurs saat ini.
  • Ponsel lipat premium ini dikritik karena mengalami kenaikan harga namun tetap mempertahankan banyak komponen lama dari generasi sebelumnya.
  • Sejumlah fitur penting seperti dukungan S Pen, standar pengisian daya nirkabel Qi2, dan kamera telefoto masih belum mendapatkan peningkatan signifikan.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari Android Authority, peluncuran lini ponsel lipat terbaru dari Samsung kembali menarik perhatian industri teknologi global. Tahun ini, raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut membagi lini perangkat lipat bergaya buku menjadi dua model utama, yakni Galaxy Z Fold 8 standar yang tampil lebih lebar serta Galaxy Z Fold 8 Ultra yang diposisikan sebagai penerus langsung dari Galaxy Z Fold 7 tahun lalu. Meskipun hadir dengan sebutan Ultra yang mengesankan spesifikasi paling puncak, sesi pengujian awal dan ulasan mendalam menunjukkan bahwa perangkat seharga USD 2,100 atau sekitar Rp37.663.500 ini masih menyisakan beberapa catatan penting yang patut diperhitungkan oleh para calon pembeli.

Kehadiran perangkat ini memicu berbagai perbincangan di kalangan pengamat gawai. Sejumlah jurnalis teknologi dari Android Authority seperti Sanuj Bhatia, Paul Jones, Hadlee Simons, dan Robert Triggs, membedah secara rinci berbagai aspek dari perangkat lipat paling mahal besutan Samsung ini. Mulai dari strategi penetapan harga, absennya fitur-fitur esensial, hingga perbandingan berat bodi dan spesifikasi kamera, semuanya dikupas secara objektif untuk memberikan gambaran utuh kepada konsumen sebelum memutuskan untuk membelinya.

Kenaikan Harga Signifikan Tanpa Perubahan Drastis

Aspek pertama yang langsung menjadi sorotan utama adalah lonjakan harga jual perangkat. Galaxy Z Fold 8 Ultra kini dipasarkan dengan harga mulai dari USD 2,100 yang jika dikonversikan ke Rupiah menggunakan kurs sistem saat ini (1 USD = Rp 17.935) bernilai sekitar Rp37.663.500, mengalami kenaikan sebesar USD 100 dibanding pendahulunya. Kenaikan harga ini tentu menuntut peningkatan yang masif pada keseluruhan pengalaman pengguna. Namun, dalam kenyataannya, ponsel ini terlihat dan terasa sangat mirip dengan model tahun sebelumnya, dengan bahasa desain dan dimensi bodi yang nyaris serupa.

Meskipun terdapat beberapa peningkatan internal yang bermakna seperti kapasitas baterai yang lebih besar menjadi 5,000mAh serta peningkatan kamera ultrawide menjadi 50 megapiksel, Samsung justru memangkas konfigurasi RAM dasarnya menjadi 12GB. Situasi pasar komponen global pada tahun 2026 di mana harga memori melonjak tinggi memang menjadi tantangan tersendiri bagi pabrikan. Kendati demikian, mematok harga setinggi itu untuk produk yang tidak menawarkan sensasi pembaruan yang revolusioner menjadi sebuah pil pahit bagi konsumen setia di pasar global.

Penggunaan Branding Ultra yang Menimbulkan Ekspektasi Keliru

Keputusan Samsung untuk mengubah skema penamaan lini produk dengan menyematkan kata Ultra pada model tertingginya dinilai menciptakan ekspektasi yang terlalu tinggi. Dengan hadirnya model standar yang lebih lebar, model premium ini mendapatkan tambahan nama Ultra. Sayangnya, tambahan gelar tersebut tidak sejalan dengan perombakan radikal pada perangkat kerasnya, sehingga memunculkan kesan bahwa pelabelan ini semata-mata strategi pemasaran.

Banyak keluhan lama dari generasi-generasi sebelumnya yang masih terbawa pada perangkat ini. Mulai dari sensor kamera telefoto yang tidak berubah, ketiadaan dukungan pengisian daya magnetik bawaan, hingga hilangnya dukungan aksesori stylus. Peninjau dari Android Authority menilai bahwa penggunaan nama Ultra seharusnya mencerminkan kesempurnaan di setiap lini tanpa kompromi, yang sayangnya belum sepenuhnya terwujud pada perangkat lipat ini.

Kamera Telefoto yang Sudah Tertinggal Zaman

Sektor fotografi pada ponsel lipat kelas atas selalu menjadi ajang unjuk gigi bagi produsen teknologi. Samsung sendiri telah melakukan langkah positif dengan memperbarui sensor kamera utama pada Galaxy Z Fold 7 tahun lalu menjadi 200 megapiksel yang setara dengan seri Galaxy S25 Ultra, disusul oleh peningkatan sensor ultrawide menjadi 50 megapiksel pada seri terbaru ini.

Namun, masalah besar terletak pada lensa telefoto 3x beresolusi 10 megapiksel. Sensor optik jarak dekat ini merupakan komponen yang sama persis yang telah digunakan sejak era Galaxy Z Fold 3 yang meluncur sekitar setengah dekade lalu. Samsung sama sekali tidak menyentuh atau meningkatkan modul telefoto pada Galaxy Z Fold 8 Ultra. Mengingat statusnya sebagai ponsel berlabel Ultra dengan banderol harga premium, spesifikasi kamera zoom tersebut terasa sudah sangat tertinggal dibandingkan para pesaing di kelasnya.

Absennya Standar Pengisian Daya Nirkabel Qi2 Bawaan

Perkembangan teknologi pengisian daya nirkabel magnetik telah memasuki babak baru, di mana standar Qi2 atau yang populer dengan teknologi MagSafe mulai diadopsi oleh berbagai produsen perangkat genggam. Sangat disayangkan bahwa hingga pertengahan tahun 2026, ekosistem perangkat Samsung masih belum mengintegrasikan profil magnetik Qi2 secara langsung ke dalam bodi ponsel andalan mereka.

Hal ini berarti para pengguna Galaxy Z Fold 8 Ultra tetap harus membeli dan mengenakan casing khusus tambahan sekadar untuk menempelkan ponsel pada pengisi daya nirkabel magnetik dan mencapai kecepatan penuh 20W. Untuk sebuah perangkat flagship seharga lebih dari Rp37 juta, ketiadaan magnet internal di dalam bodi ponsel merupakan sebuah kekurangan fungsional yang cukup mengecewakan dalam penggunaan sehari-hari.

Dimensi Bodi yang Justru Menjadi Lebih Berat

Biasanya, lini produk dengan predikat paling premium dirancang untuk menjadi yang paling ringan, tipis, dan canggih di antara saudaranya. Namun, fakta di atas lembar spesifikasi teknis menunjukkan anomali yang cukup menarik antara model standar dan varian tertingginya.

Berdasarkan data spesifikasi resmi, model Galaxy Z Fold 8 standar yang memiliki bodi lebih pendek tercatat memiliki bobot hanya 201 gram saja. Sebaliknya, Galaxy Z Fold 8 Ultra yang menyandang predikat paling mewah justru memiliki bobot yang lebih berat, yakni mencapai 215 gram. Meskipun selisih angka tersebut tidak terlalu drastis saat digenggam, hal ini membuktikan bahwa varian Ultra tidak selalu unggul di setiap parameter fisik.

Ketiadaan Dukungan S Pen sebagai Fitur Khas Seri Teratas

Poin paling krusial yang dianggap sebagai kekurangan terbesar dari perangkat ini adalah hilangnya dukungan terhadap aksesori S Pen. Samsung sebelumnya telah menghapus komponen digitizer—bagian perangkat keras yang mendeteksi sentuhan stilus—mulai dari generasi Galaxy Z Fold 7 dengan alasan mengejar desain bodi yang jauh lebih tipis.

Tren pengurangan komponen tersebut ternyata terus berlanjut pada Galaxy Z Fold 8 Ultra. Keputusan ini memicu kritik tajam karena lini produk premium Samsung dulunya sangat lekat dengan produktivitas layar besar berkat kehadiran stilus. Bagi para profesional kreatif atau pengguna yang gemar membuat catatan tangan, mencoret-coret, maupun menganotasi dokumen di layar lapang bagian dalam, ketiadaan dukungan S Pen pada model Ultra tentu menghilangkan salah satu daya tarik utama dari sebuah ponsel lipat produktif.

Berikut adalah tabel ringkasan perbandingan spesifikasi dan aspek krusial pada lini ponsel lipat terbaru Samsung berdasarkan ulasan tersebut:

Aspek Perbandingan Galaxy Z Fold 8 Standar Galaxy Z Fold 8 Ultra
Perkiraan Harga Domestik Lebih terjangkau dari versi Ultra Mulai USD 2,100 (Sekitar Rp37.663.500)
Berat Perangkat 201 gram 215 gram
Kamera Utama & Ultrawide Pembaruan sensor terkini 200MP Utama & 50MP Ultrawide
Kamera Telefoto Konfigurasi standar 10MP 3x Telefoto (Model lama)
Dukungan S Pen Tidak tersedia Tidak tersedia
Pengisian Daya Nirkabel Standar nirkabel umum 20W Qi2 (Memerlukan casing khusus)
Disclaimer: Artikel ini diadaptasi dari ulasan jurnalisme teknologi internasional dengan penyesuaian informasi spesifikasi dan kurs mata uang terkini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan produk dan penawaran resmi, Anda dapat mengunjungi laman resmi Samsung atau platform ritel global seperti Amazon.

Referensi Sumber: Android Authority – The $2,100 Galaxy Z Fold 8 Ultra gets 6 major things wrong

Itulah poin-poin yang bisa kita gali dari topik Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Review Menyoroti Enam Kekurangan Utama. Banyak hal baru gess yang bisa kita dapet dari isu ini. Sekarang tinggal giliran kamu buat cobain sendiri gess.

Punya unek-unek yang mau disampaikan gess? tulis dong kritik atau saran kamu di bawah. Biar tim kecil DomainJava.com makin semangat update konten.

Salam hangat dan pamit undur diri dulu gaes, salam sukses dari kami dan selamat beraktivitas gess!

Tim Redaksi: Redaksi DomainJava

Penulis:

  • Bagikan